BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Penetapan harga
merupakan keputusan kritis yang menunjang keberhasilan operasi organisasi
profit maupun non profit. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran
yang memberikan pendapatan bagi organisasi. Namun, keputusan mengenai harga
(terutama dalam konteks pemasaran jasa) tidak mudah dilakukan. Di satu sisi,
harga yang terlalu mahal bisa meningkatkan laba jangka pendek, tetapi di sisi
lain akan sulit dijangkau konsumen dan sukar bersaing dengan kompetitor. Dalam
kasus tertentu, harga yang terlampau mahal bisa diprotes lembaga konsumen dan
bahkan mengundang campur tangan pemerintah untuk menurunkannya. Selain itu,
margin laba yang besar cenderung menarik para pesaing untuk masuk ke industri
yang sama. Sedangkan bila harga terlalu murah, pangsa pasar bisa melonjak,
namun margin kontribusi dan laba bersih yang diperoleh akan berkurang. Selain
itu, sebagian konsumen bisa saja mempersepsikan kualitasnya jelek. Semua
organisasi yang berorientasi laba dan banyak organisasi nirlaba menetapkan
harga atas produk atau jasa mereka. Harga disebut dengan berbagai nama. Harga
merupakan elemen bauran pemasaran yang paling fleksibel (harga dapat diubah
dengan cepat, tidak seperti ciri khas produk dan perjanjian distribusi). Pada saat
yang sama, penetapan dan persaingan harga juga merupakan masalah nomor satu
yang dihadapi perusahaan. Namun, banyak perusahaan yang tidak menangani
penetapan harga dengan baik. Kesalahan yang paling umum yang pertama adalah
penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya. Kedua, harga kurang sering
direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. Ketiga, harga
ditetapkan secara independen dari bauran pemasaran lainnya dan bukannya sebagai
unsur intrinsik dari strategi penentuan posisi pasar. Keempat, harga kurang
cukup bervariasi untuk berbagai macam produk, segmen pasar, dan saat pembelian.
Perusahaan menangani penetapan harga dengan berbagai cara. Pada
perusahaan-perusahaan kecil, harga biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak
dan bukan oleh bagian pemasaran atau penjualan. Pada perusahaan-perusahaan
besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk.
Pihak lain yang mempengaruhi penetapan harga antara lain manajer penjualan,
manajer produksi, manajer keuangan,dan.akuntan.
Bauran pemasaran
yang keempat adalah place, atau lebih dikenal dengan saluran distribusi produk
dari gudang penyimpanan untuk disalurkaan e agen besar, agen kecil, pengecer
dan terakhir ke took, took sywalayan dan warung-warung trdisional, yang pada
akhirnya bertemu transaksi dengan para konsumen. Produk yang diproduksi oleh
produsen sampai kepada para konsumen memerlukan waktu,dimana waktu yang
diperlukan ada yang relative pendek atau relative panjang. Lama tidaknya
penyaluran produk dari gudang penyimpanan ke konsumen akhir tergantung ddari
jaraknya , semakin dekat waktu yang diperlukan akan semakin sedikit, dan
semakin jauh waktu yang diperlukan juga semakin lama, untuk kecepatan
distribusi produk tersebut, maka suatu perusahaan mempuntai gudang penyimpanan
di tiap daerah pemasaran. Sehingga memperpendek waktu tempuh dan mempecepat
distribusi produk.
(*DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN, Drs. Danang Sunyoto,SH.,SE.,MM.)
Komunikasi
merupakan kegiatan yang sangat penting dalam berorganisasi. Hasilnya penelitian
seorang pakar komunikasi menyimpulkan bahwa sekitar 75 % - 90 % waktu kerja
digunakan pimpinan atau manajer untuk berkomunikassi. Jika dua orang atau lebih
bekerja sama maka perlu adanya komunikasi antarmereka. Maakin baik komunikasi
mereka , makain baaik pula kemungkinana kerja ssama mereka. Komunikasi yang
efektif menuntutn rasa saling menghormati, percata, terbuka, ddan tanggung
jawab. Leader atau manajer
menyampaikan semua fungsi manajemen dan tugas manajemen melalui saluran
komunikasi. Leader atau manajer
melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, semuanya
melalui komunikasi kepada bawahannya. Demikian pula dengan pemberian tugas –
tugas seperti administrasi : (a) peserta didik, (b) tenaga pendidikan dan
tengana kependidikan, (c) keuangan, (d) sarana dan prasarna, (e) hubungan
sekolah dengan masyarakat, dan (f) layanan-layanan khussus juga dilakukan
melalui komunikasi.
Sarana yang
digunakan leader dan manajer dalam
berinteraksi ddengan bawahannya, atassannya,spesialis, kelompok leader atau manajer, masyarakat,
kelompok lain, asosiassi profesi, pemerintah, pelanggan, pihak-pihak yang
berkepentingan, supplier, organisasi
– organisasi adalah komuniakssi. Jadi keterampilan social perlu dimiliki daalam
rangka membina hubungn social atau keterampilan social perlu dimiliki setiap leader atau manajer.( *MANAJEMEN, PROF. DR.HUSAINI
USMAN,M.PD.,M.T. )
1.2. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulis
menulis makalah ini tidak lain hanya untuk berbagi ilmu dan menambah
pengetahuan umumnya untuk manajemen pemasaran dan dikhususkan pada stategi
penetapan harga, distibusi, dan komunikasi pemasaran.
1.3.
RUMUSAN
MASALAH
a.
Bagaimana
Stategi Penetapan Harga ?
b.
Apakah
yang dimaksud dengan Saluran Distribusi?
c.
Apakah
yang dimaksud komunikasi pemasaran ?
BAB II
PEMBAHSAN
PENETAPAN HARGA
1.1. PENGERTIAN HARGA
Dalam pembahsan
pada umunya berkaitanlangsung dengan masalah harga suatu produk. Apakah harga
produk sudah sesuai dengan kualitas produk? Berapaka harga produk yang sesuai ?
jika penentuan atau penetapan harga tidak sesuai dengan kondisi produk, tentu
saja akan menjaadi masalah pemasar. Misalnya harga yang ditetapkan terlalu
mahal atau terlalu murah untuk produk dengan kwaliats tertemtu . jika penetapan
harga produk terlalu mahal , tidak sesuao dengan kwalitaasnya, konsumen akan
cenderung meninggalkannya dan mencari produk sejenis lainya. Sebaliknya jika penetapan
harga produk terlalu murah , konsumen ada kemungkinan akan membeli dalam jumlah
relative banyak. Pada akhirnya kedua kesalahan penetapan harga produk di atas,
sama sama menimbulkan kerugian bagi produsen.
Lalu apa yang di
maksud dengan harga itu ? ada beberapa pengertian mengenai harga , sebgai
berikut :
a.
Menurut
Michael J.Etzel
Adalah nilai
yang disebutkan dalam mata uang ( dolar = $ )atau medium moneter lainya sebagai
alat tukar (Price is value expressed in
terms of dollars or monetary medium of exchange)
Didalam ilmu
ekonomi , pengertian garga mempunyai hubyngan dengan nilai keguanaann. Nilai
adalah ukutan jumlah yang diberikan oleh suatu produk apabila produk itu
ditukarkan dengan produk lainya. Sedangkan kegunaan adalah atribut dari sebuah
item yang memberikan tingkat kepuasan tertentu pada konsumen.
b.
Menurut
Indriyo Gitosudarmo
Harga itu
sebenarnya merupakan nilai yang di nyatakan dalam satu mata uang atau alat
tukar, terhadap suatu produk tertentu.
Jadi pengertian
harga adalah sejumlah uanga yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah produk
tertentu atau kombinasi antara narang dan jasa. Harga sebenarnya bukanlah hanya
di pertentukan bagi suatu produk yang sedang
diperjual belikan dipasar ssaja tetaoi juga berlakuuntuk
produk-produk yang lain. Misalnya rumah
yang disewakan atau dikontrakan, konsultan, akuntan public, pengacara, dokter
melalui tariff yang ditentukan.
c.
Menurut
Kotler
Pengertian harga
adalah ssejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk tertentu.perusahaan
menetapkan harga berbagai cara. Didalam oerusahaan kecil, seringkali ditetapkan
oleh manajemen puncak. Di perusahanan – perusahaan besar, penetapan harga
biasanya ditangani oleh para manajer divisi atau manajer lini produk. Bahkan
dalam perusahaanan ini, manajemen puncak menyusun tujuan dan kebu=ijakan
tentang penetapan harga umum dan seringkali menyetujui harga yang diusulakan
oleh manajemen pringkat bawah.(*DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN, Drs. Danang
Sunyoto, SH.,SE.,MM. : 130)
Sedangkan
penetapan harga adalaha suatu proses untuk menentukan seberapa besar pendapatan
yang akan diperoleh atau diterima dari produk atau jasa yang di hasilkan.
Penetapan harga
telah memiliki fungsi yang sangat luas di dalam program pemasaran. Menetapkan
harga berarti bagaimana mempertautkan produk kita dengan aspirasi sasaran
pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan, dan harapan
konsumen.
Dengan kata lain
harga dan penetapan harga adalah suatu proses yang harus dilakukan oleh
perusahaan untuk memberikan nilai suatu produk atau jasa dengan
mengkalkulasikan terlebih dahulu segala macam biaya yang dikeluarkan untuk
memperoleh keuntungan serta mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan selain harga.
1.2.
TUJUAN
PETAPAN HARGA
Penjual barang
dalam menetapkan harga dapat mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain antar
penjual maupun antar barang yang satu dengan yang lain. Tujuan penetapan harga
menurut para ahli yaitu :
1.
Menurut
Harini (2008: 5) adalah sebagai berikut:
a.
Penetapan harga untuk mencapai
penghasilan atas investasi. Biasanya besar keuntungan dari suatu investasi
telah ditetapkan prosentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan harga
tertentu dari barang yang dihasilkannya.
b.
Penetapan harga untuk kestabilan
harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk perusahaan yang kebetulan memegang
kendali atas harga. Usaha pengendalian harga diarahkan terutama untuk mencegah terjadinya
perang harga, khususnya bila menghadapi permintaan yang sedang menurun.
c.
Penetapan harga untuk mempertahankan
atau meningkatkan bagiannya dalam pasar. Apabila perusahaan mendapatkan bagian
pasar dengan luas tertentu, maka ia harus berusaha mempertahankannya atau
justru mengembangkannya. Untuk itu kebijaksanaan dalam penetapan harga jangan
sampai merugikan usaha mempertahankan atau mengembangkan bagian pasar
tersebut.
d.
Penetapan harga untuk menghadapi
atau mencegah persaingan. Apabila perusahaan baru mencoba-coba memasuki pasar
dengan tujuan mengetahui pada harga berapa ia akan menetapkan penjualan. Ini
berarti bahwa ia belum memiliki tujuan dalam menetapkan harga coba-coba
tersebut.
e.
Penetapan harga untuk memaksimir
laba. Tujuan ini biasanya menjadi anutan setiap usaha bisnis. Kelihatannya
usaha mencari untung mempunyai konotasi yang kurang enak seolah-olah menindas
konsumen. Padahal sesungguhnya hal yang wajar saja. Setiap usaha untuk bertahan
hidup memerlukan laba. Memang secara teoritis harga bisa berkembang tanpa batas
2.
Menurut
Machfoedz (2005: 139)
a.
Orientasi
laba: mencapai target baru, dan meningkatkan laba;
b.
Orientasi
penjualan: meningkatkan volume penjualan, dan mempertahankan atau mengembangkan
pangsa pasar
3.
Menurut Tjiptono (2002) tujuan penetapan
harga adalah :
a.
Berorientasi laba yaitu bahwa setiap
perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba yang paling
tinggi.
b.
Berorientasi pada volume yaitu
penetapan harga berorientasi pada volume tertentu.
c.
Berorientasi pada citra (image) yaitu
bahwa image perusahaan dapat dibentuk melalui harga.
d.
Stabilisasi harga yaitu penetapan
harga yang bertujuan untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga
perusahaan dengan harga pemimpin pasar (market leader).
e.
Tujuan lainnya yaitu menetapkan
harga dengan tujuan mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas
konsumen, mendukung penjualan ulang atau menghindari campur tangan pemerintah.
4.
Menurut Kotlre, 1992 tujuan
penetapan harga adalah :
a.
Perusahaan
dengan hati – hati menyusun tujuan – tujuan pemasarannya, misalnya
mempertahankan hidup, meningkatkan laba saatitu, ingin memenangkan bagian pasar
atau kualitaas produk.
b.
Perusahaan
menentukan kurva permintaan yang memperlihatkan kemungkinan jumlah produk yang
akan terjual perpriode, pada tingkat – tingkat harga alternative. Permintaan
yang semakin tidak elastis, semakin tinggi pula harga yang dapt ditetapkan oleh
perusaahaan.
c.
Perusahaan
memperkirakan bagaimana biaya akan bervarriasi pada tingkat produksi yang
berbeda – beda.
d.
Perusahaan
mengamati harga – harga para pesaing sebagai dasar ntuk menetapkan merka
sendiri.
e.
Perusahaan
memilih salah sati daar metode penetapan harga terdiri penetapan harga biaya
plus, analisis pulang pokok dan penetapan laba sasara, penetapan harg nilai
yang diproleh, penetapan harga yang sesuai den laju perkembangan dan penetapan
harga dalam sampul tetutup.(DASAR-DASAR MANAJEMEN PEMASARAN, Drs. Danang
Sunyoto,SH.,SE.,MM. : 131)
1.3. FAKTOR – FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PENETAPAN HARGA
Pada dasarnya ada dua factor yang mempengaruhi
penetapan harga (William J. Stanton, 1997)
1.
Memperkirakan
permintaan produk (Estimate for the product)
Ada dua langka
memperkirakan permintaan, yaitu :
a.
Memperkirakan
berapa besarnya harga yang diharapkan (The expected price)
Harga yang diharapkan
untuk suatu produk adalah harga yang secara sadar atau tidak sadar dinilai oleh
konsumen atau pelanggan.
b.
Memperkirakan
penjualan dengan harga yang berbeda (Estimate of sale vories price)
Manajemen
eksekutif harus juga dapat memperkirakan volume penjualan dengan harga yang
berbeda, sehingga dapat ditentukan jumlah permintaan, elastisitas permintaan,
dan titik impas yang mungkin tercapai.
2.
Reaksi
pesaing (Competive reactions)
Pesaing
merupakan salah satu factor yang mempengaruhi penciptaan harga terutama sekali macam
–macam pesaing yang potensial. Sumber pesaing tersebut berasal dari tiga macam,
yaitu :
a.
Produk
yang serupa, misalnya Jarum 76 dengan rokok Bintang Buana, Minuman energy M150
dengan minuma Extra Joss.
b.
Produk
penggangti, misyalnya merek Gulaku dengan merek Tropikal Slim, susu sapi
dengaan susu kedelai.
c.
Produk
yang tidak serupa, tetapi mencari konsumen yang sama, Misalnya jasa pendidikan
perguruan tinggi dengan produk computer, produk sepeda motor dengan mobil.
3.
Bauran
pemasaran lainya(Other part of the marketing mix)
a.
Produk
Kegunaan produk,
baru atau tidaknya produk,modifikasi produk dan lain – lain.
b.
Saluran
Distribusi
Tipe saluran dan
tipe pialang yang dipergunakan akan memengaruhi penetapan harga, harga ke
grosir tentu berbeda dengan harga ke pengecer.
c.
Promosi
Siapakah yang
melaksanakan atau yang bertanggung jawab dalam promosi? Promosi dilakukan oleh
produsen dan jika dilakukan oleh distributor tentu beda dalam menetapkan harga
kepada distributor.
1.4. STRATEGI PENETAPAN HARGA
Untuk memenangkan sebuah persaingan, maka
pihak produsen harus menentukan strategi harga yang tetap bagi produknya.
Menurut Indriyo Gteitosudarmo (1999) ada dua strategi penetapan harga yaitu :
1.
Strategi
harga bagi produk baru
Dalam pemasaran
penetapan harga tinggi pada produk baru disebut market skimming pricing, dan penetapan harga tinggi ini akan berhasil jika
:
a.
Cukup
banyak permintaan terhadap produk yang bersangkutan.
b.
Harga
yang tinggi diasumsikan tidak menarik bagi para pesaingannya.
c.
Harga
yang tinggi diasumsikan akan mampu meningkatkan citra produk yang superior.
Sedangkan
penetapan harga rendah (murah) pada produk baru disebut market penetration pricing dan akan berhasil jika :
a.
Pasar
ssanggat peka, sehingga harga yang renda mampu merangsang pertumbuhan atau
permintaan pembeli potensi yang sebanynnya ak – banyaknya.
b.
Pengaalaman
produksi mampu menekan biaya produksi dan biaya distribusi
c.
Harga
yang renda tidak menarik nagi para pesainganya.
2.
Strategi
harga bauran produk
Pada inti
strategi penetapan harga untuk bauran produk adalah kebersamaan di antra harga
– harga produk secara keseluruhan.
Strategi harga
bauran produk dibedakan menjadi 4, yaitu :
a.
Harga
garis produk
Penetapan harga
berdasarkan garis produk adalah menetapkan harga produk menurut jenis produk.
b.
Harga
produk perlengkapan
Selain bermacam
– macam variab produk yang diproduksi, pihak produsen seringkali memproduksi
atau menyediakan produk perlengkapan(optional) pendukung produk utama, misalkan
krat tempat minum botol, kompor gas dengan selang dan tabung gas yang sama
mereknya, mobil dengan aksesoris radio tape, AC.
c.
Harga
produk penawaran (captive)
Produsen juga
ada yang hanya menjual produk utama saya tanpa perlengkapan lainya, seperti
mobil remot tanpa batrai dan harus membeli sendiri batarainya , membeli
computer tanpa programnya dan lain – lain, sehingga kesannya adalah harga yang
ditawarkan kepada konsumen relative relative murah.
d.
Harga
produk sampingan
Seringkali
perusahaan tidak dapat menghindarkan untuk memproduksi produk lain di samoing
produk utamnya, dan proses produksi tersebut walaupun bukan utama, namu tetap
saja pihak produsen harus mengeluarkan biaya, misalkan pabrik gula tebu, dimana
gula pasir merupakan produk utamanya, dan spiritus sebagai produk sampingan.
SALURAN
DISTRIBUSI
2.1. PENGERTIAN SALURAN DISTRIBUSI
Beberapa
pengertian mengenai saluran distribusi dan yang berkaitan dengan saluran
distribusi oleh pakar dibidangnta sebagai berikut :
1.
Menurut
Michael J. Etzel
Saluran
distribusi terdiri dari serangkaian lembaga yang melakukan semua kegiatan yang
digunakan untuk menyalurkan produk dan status pemilikannya dari produsen ke
konsumen akhir atau pemakai bisnis (A
distribution channel consist of the set of people and firms involved in the
flow on titlento a product as it moves from producer to ultimate costumer or
business user).
2.
Menurut
Suhardi Sigit
Saluran
distribusi adalah perantara-perantara, para pembeli penjual yang dilalui oleh
perpindahan barang fisik maupun perpindahan milik sejak dari produsen hingga ke
tangan konsumen.
3.
Menurut
Basu Swastha DH
Definisi saluran
pemasaran menurut David Revzan dikutip oleh Basu Swastha DH (1991), merupakan
suatu jalur yang dilalui oleh arus barang-barang dari produsen ke perantara dan
akhirnya sampai pada pemakai.
2.2.
MACAM
MACAM DISTRIBUSI
Para agen dan
dristibutor juga mengalami kerugian yang hampir sma dengan produsen, yaitu
menanggung biaya penyimpanan produk dan harus membayar tenaga kerja, tanpa
banyak aktivitas kerja karena barang tidak ada atau sedikit di gudang
penyimpanan. Para konsumen rugi karena barang tersebut sangat dibutuhkan,
sehingga harus menunggu barang itu ada dan atau harus mencari barang yang lain
dengan kualitas dan kemanfaatan yang
sama. Untuk itulah diperlukan pemilihan saluran distribusi yang tepat.
Berikut ini
macam-macam saluran distribusi untuk barang konsumsi, untuk barang industry dan
untuk jasa.
1.
Menurut
Wiliam J. Stanton
Saluran
distribusi dibedakan menjadi saluran distribusi untuk barang konsumsi, untuk
barang industry dan untuk jasa.
a.
Saluran
distribusi untuk barang konsumsi
Saluran
distribusi ini meliputi produsen ke konsumen, produsen-pengecer-konsumsi,
produsen-pedagang besar-pengecer konsumen, produsen-agen-pengecer-konsumen,
produsen-agen-pedagang besar- pengecer-konsumen.
1.
Produsen
ke konsumen
Produsen
menggunakan saluran langsung dengan penjualnya dari rumah atau melalui pos.
Pada perusahaan penerbitan buku biasanya menggunakan dengan cara menjual dari
sekolah atau dari kampus ke kampus.
2.
Produsen-pengecer-konsumen
Banyak para
pengecer besar bertindak sebagai perantara sekaligus sebagai pengecer dan juga
sebagai penyalur industri.
3.
Produsen-pedagang
besar-pengecer-konsumen
Di dalam pasar konsumen,
mereka merupakan grosir atau pedagang besar dan sekaligus pengecer.
4.
Produsen-agen-pengecer-konsumen.
Produsen juga
menggunakan perantara agen untuk mencapai para pengecer besar maupun pengecer
kecil di pasar. Misalkan produsen makanan menggunakan broker untuk memasukkan
kue ke pengecer besar (supermarket) atau pengecer kecil (took kecil).
5.
Produsen-agen-pedagang
besar-pengecer-konsumen.
Untuk mencapai
pengecer kecil, produsen sering menggunakan perantara agen dengan menggunakan
pedagang besar untuk menyalurkan ke par pengecer kecil.
b.
Saluran
distribusi untuk barang industry
1.
Produsen-pemakai
Saluran
distribusi langsung ini dilakukan untuk produk industry berat yang harganya
relative mahal dan mempunyai struktur saluran yang lain.
2.
Produsen-distributor industry-pemakai
Untuk produk
alat-alat kantor, operating supplies, dan lain-lain produsen menggunakan
distributor industry dalam menyalurkan barangnya ke konsumen.
3.
Produsen-agen-pemakai
Untuk suatu
produk atau memasuki pasar produsen menggunakan agent u tenaga penjual sendiri.
4.
Produsen-agen-distributor industri-pemakai
Produsen tidak
bias menjual barangnya dengan menggunakan agen untuk dijual langsung kepada
pemakai tetapi menggunakan jasa distributor industry untuk dijual kepada pemakai.
c.
Saluran
distribusi untuk jasa
Untuk jenis
saluran distrbusi jasa ada dua macam, yaitu produsen – konsumen, dan produsen –
agen – konsumen.
1.
Produsen
– Konsumen
Karena jasa
merupakan batang tidak berwujud maka proses produksi dan aktivitas penjualannya membutuhkan kontak langsung
antara produsen dan konsumen. Tipe saluran langsung ini banyak dipergunakan
oleh jasa-jasa professional, seperti akuntan, konsultan.
2.
Produsen-agen-konsumen
Penjualan jasa
juga sering menggunakan agen sebagai penghubung antara produsen dan konsumen,
seperti jasa angkutan, travel dan sebagainya.
2.
Menurut
Indriyo Gitosudarmo
Macam saluran
distribusi dibedakan menjadi tiga, yaitu saluran distribusi intensif, saluran
distribusi intensif, saluran distribusi intensif, saluran distribusi selektif,
dan saluran distribusi eksklusif.
a.
Saluran
distribusi intensif
Saluran ini
merupakan cara distribusi di mana barang yang dipasarkan itu diusahakan agar
dapat menyebar seluas mungkin sehingga dapat secara intensif menjangkau semua
lokasi di mana calon konsumen itu berada.
b.
Saluran
distribusi selektif
Saluran ini
merupakan cara distribusi di mana barang-barang hanya disalurakan oleh beberapa
penyalur saja yang terpilih atau selektif.
c.
Saluran
distribusi eksklusif
Saluran ini
merupakan bentuk penyaluran yang hanya menggunakan penyalur yang sangat
terbatas jumlahnya, bahkan pada umum hanya ada satu penyalur tunggal untuk satu
daera tertentu.
(*DASAR-DASAR
MANAJEMAN PEMASARAN, Drs. Danang Sunyoto, SH.,SE.,MM)
2.3.
FUNGSI
FUNGSI DISTRIBUSI
Pada pokoknya
fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan dalam saluran distribusi dapat
dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu fungsi pertukaran, fungsi
penyediakan fisik, dan fungsi penunjang (Basu Swata, 1991).
1.
Fungsi
Pertukaran
Pada fungsi
pertukaran dibedkan menjadi 3 macam, yaitu pembelian, penjualan pengambilan
risiko.
a.
Pembelian
Fungsi pembelian
merupakan usaha memilih barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali atau
untuk digunakan sendiri dengan harga, pelayanan dari penjul dan kualitas
tertentu.
b.
Penjualan
Fungsi penjualan
dilakukan oleh pedagang besar sebagai alat pemasaran bagi produsennya. Fungsi
ini sangat penting karena bertujuan menjual barang atau jasa yang di perlukan
sebagai sumber pendapatan untuk menutup semua biaya untuk memperoleh laba.
c.
Pengambilan
risiko
Fungsi
pengambilan risiko merupakan fungsi menghindari dan mengurangi risiko terhadap
semua masalah dalam pemasaran, sehingga akan melibatkan beberapa fungsi yang
lain. Dalam penyaluran barang-barang biasanya pedagang besar memberikan jaminan
tertentu baik kepada pengecer maupun produsennya.
2.
Fungsi
Penyediann Fisik
Ada empat macam
fungsi yang termasuk dalam penyediaan fisik yaitu :
a.
Pengumpulan
Sebagai alat penyaluran perantara
melakukan fungsi pengumpulan barang-barang dari beberapa sumber atau beberapa macam
barang dari sumber yang sama. Pengumpulan ini sangat membantu dalam
meningkatkan efisiensi penyaluran terutama untuk barang-barng konsumen seperti
makanan.
b.
Penyimpanan
Fungsi ini
menciptakan faedah waktu karena melakukan penyesuaian antara penawaran dengan
permintaannya. Contohnya buah, yang memerlukan tempat khusus.
c.
Pemilihan
Fungsi ini
dilakukan oleh penyalur dengan cara menggolong-golongkan, memeriksa dan
menentukan jenis dan kualitas dari barangnya. Biasanya kualitas barang dapat
dibedakan ketiga tingkatan yaitu kualitas baik, kualitas sedang, dan kualitas
rendah.
d.
Pengangkutan
Fungsi ini,
merupakan fungsi pemindahahn barang dari tempat barang dihasilkan ketempat
barang dikonsumsikan. Pengangkutan yang baik memungkinkan perluasasn pasar dan
memungkinkan pula spesialisasi dalam industri yang akan berakibat produksi
secara besar-besaran.
3.
Fungsi
penunjang
Fungsi ini
bersifat membantu untuk menunjang terlaksananya fungsi yang lain, termasuk
fungsi yang ada dibawah ini,yaitu :
a.
Pelayanan
sesudah pembelian
Dapat disebutkan
disini bahwa barang atau produk seperti sepeda motor sangat memerlukan
pelayanan sesudah pembeli mengenai harga purna jual, reparasi, ketersediaan dan
kemudahan memperoleh suku cadang.
b.
Pembelanjaan
Kedua belah
pihak baik konsumen maupun produsen memerlukan sumber pemberlanjaan, yang bias
didapat dari penjual, penyedia dengan cara membayar kredit.
c.
Penyebaran
informasi
Dengan sejumlah
informasi dapat diukur seberapa jauh kepentingan pembeli, penjual atau lembaga
lain dalam saluran distribusi, misalnya took swalayan, took grosir.
d.
Koordinasi
saluran
Fungsi ini
dilakukan untuk mengorganisasi semua lembaga yang terlibat dalam saluran
distribusi dan sangat berkaitan dengan fungsi penyebaran informasi. Fungsi ini
mengoordinasi lembaga saluran dan fungsi-fungsi lainnya.
(*DASAR- DASAR
MANAJEMEN PEMASARAN, Drs. Danang Sunyoto, SH.,SE.,MM., : 179-181)
KOMUNIKASI
3.1. KOMUNIKASI PEMASARAN
Komunikasi
pemasaran adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk,
dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk
dan merek yang dijual. Komunikasi pemasaran mempresentasikan "suara"
perusahaan dan mereknya serta merupakan sarana dimana perusahaan dapat membuat
dialog dan membangun hubungan dengan konsumen. Komunikasi pemasaran bagi
konsumen, dapat memberitahu atau memperlihatkan kepada konsumen tentang bagaimana
dan mengapa suatu produk digunakan, oleh orang macam apa, serta di mana dan
kapan. Komunikasi pemasaran berkontribusi pada ekuitas merek dengan menanamkan
merek dalam ingatan dan menciptakan citra merek serta emndorong penjualan dan
bahkan mempengaruhi nilai pemegang saham.
3.2.
TUJUAN
KOMUNIKASI PEMASARAN
Adapun tujuan dari komunikasi
pemasaran ini secara garis besar adalah untuk memperoroleh keuntugan (profit).
Namun tujuan lain dari komunikasi pemasaran ini ialah sebagai berikut :
a.
Informasi
Memberikan informasi melalui media yang tersedia kepada
khalayak, sehingga khlayak mengetahui. Contoh iklan-iklan
di media massa, baik media televisi, media cetak seperti koran maupun media
baru seperti facebook, twitter, hingga media outdoor seperi baliho, dan poster,
kesemua iklan tersebut pada intinya memberikan informasi kepada khalayak atau
pun konsumen.
b.
Persuasi (mempengaruhi)
Setelah tujuan komunikasi pemasaran itu sebagai informasi
namun ternyata pesan yang di samapaikan melalui iklan tersebut sifatnya mempengaruhi
atau pun Mengajak khalayak untuk memebeli, produk yang diiklankan tersebut.
Seperti contoh dalam iklan
c.
Menjaga
Kesetiaan
Tujuan dari komunikasi pemasaran disini yaitu, menjaga
kesetiaan, dalam artian produk yang kita tawarkan betul-betul berkualitas, dan
menjaga kualitas produk yang kita pasarkan, artinya setelah produk kita
diminati banyak orang lantas kita mengurangi, item-item yang penting dalam
produk, sehingga mengurangi kualitas sehingga konsumen tidak lagi tertarik
terhadap produk kita.
3.3.
DUA
UNSUR PRODUK DALAM KOMUNIKASI
Ada dua unsur pokok dalam komunikasi pemasaran, yaitu:
a.
Komunikasi
: Proses dimana pemikiran dan pemahaman disampaikan antar individu, atau antar
organisasi dengan individu. Komunikasi sebagai proses penyampaian pesan yang
merupakan gagasan atau informasi pengirim melalui suatu media kepada penerima
agar mampu memahami maksud pengirim.
b.
Pemasaran
: Sekumpulan kegiatan dimana perusahaan atau organisasi lainnya mentransfer
nilai-nilai (pertukaran) tentang informasi produk, jasa dan ide antara mereka
dengan pelanggannya.
3.4.
BAURAN
KOMUNIKASI PEMASARAN
Bauran komunikasi
pemasaran terdiri dari delapan model komunikasi utama, yaitu:
a.
Iklan
: Adalah struktur informasi dan susunan komunikasi non personal yang dibiayai
dan bersifat persuasif dan promosi tentang produk, jasa atau ide oleh sponsor
yang teridentifikasi melalui berbagai macam media.
b.
Promosi
penjualan : Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong percobaan atau
pembelian produk atau jasa.
c.
Acara
dan pengalaman : Kegiatan dan program yang disponsori perusahaan yang dirancang
untuk menciptakan interaksi harian atau interaksi yang berhubungan dengan merek
tertentu.
d.
Hubungan
masyarakat dan publisitas : Beragam program yang dirancang untuk mempromosikan
atau melindungi citra perusahaan atau produk individunya.
e.
Pemasaran
langsung : Penggunaan surat, telepon, faksimile, e-mail, atau internet untuk
berkomunikasi secara langsung dengan atau meminta respon atau dialog dari
pelanggan.
f.
Pemasaran
interaktif : Kegiatan dan program online yang dirancang untuk melibatkan
pelanggan dan secara langsung atau tidak langsung meningkatkan kesadaran,
memperbaiki citra, dan menciptakan penjualan produk dan jasa.
g.
Pemasaran
dari mulut ke mulut : Komunikasi lisan, tertulis, dan elektronik
antarmasyarakat yang berhubungan dengan keunggulan atau pengalaman membeli atau
menggunakan produk atau jasa. Penjualan personal : Interaksi tatap muka dengan
satu atau lebih pembeli prospektif untuk tujuan melakukan presentasi, menjawab
pertanyaan, dan pengadaan pesanan.
3.5.
LANGKAH
– LANGKAH DALAM KOMUNIKASI
Ada delapan langkah dalam mengembangkan
komunikasi yang efektif.
a.
Mengidentifikasikan
pemirsa atau konsumen sasaran : menganalisa pembeli potensial produk perusahaan
dan menetapkan target konsumen.
b.
Menentukan
tujuan komunikasi : kebutuhan kategori, kesadaran merek, sikap merek, maksud
pembelian merek.
c.
Merancang
komunikasi : strategi pesan, strategi kreatif, sumber pesan, adaptasi global.
Memilih saluran komunikasi.
1.
Saluran
komunikasi pribadi : dua orang atau lebih berkomunikasi tatap muka, antara
seseorang dengan pemirsa, melalui telepon atau melalui e-mail.
2.
Saluran
komunikasi nonpribadi : komunikasi yang diarahkan ke lebih dari satu orang dan
meliputi media, promosi penjualan, acara dan pengalaman, serta hubungan
masyarakat.
d.
Menetapkan
total anggaran komunikasi pemasaran : metode terjangkau, metode persentase
penjualan, metode paritas kompetitif, metode tujuan dan tugas. Memutuskan
bauran komunikasi pemasaran (marketing mix).
e.
Mengukur
hasil komunikasi : mengukur dampak pesan yang dikomunikasikan terhadap konsumen
sasaran dan umpan balik yang diterima.
f.
Mengelola
proses komunikasi pemasaran terintegrasi : mengkoordinasikan media,
mengimplementasikan IMC (Integrated Marketing Communication) atau komunikasi
pemasaran terpadu.
BAB III
PENUTUP
1.1. KESIMPULAN
Penetapan harga
adalah suatu proses untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang akan
diperoleh atau diterima dari produk atau jasa yang di hasilkan. Penetapan harga
telah memiliki fungsi yang sangat luas di dalam program pemasaran. Menetapkan
harga berarti bagaimana mempertautkan produk kita dengan aspirasi sasaran
pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan, dan harapan
konsumen.
Strategi penetapan harga ditentukan oleh keputusan manajemen
tentang bauran produk, kualitas produk, dan merek produk. Strategi distribusi
juga mempengaruhi pilihan mengenai bagaimana harga akan berhasil di dalam
kombinasi strategi periklanan dengan armada penjualan. Strategi penetapan harga
mempengaruhi keputusan elemen bauran pemasaran lainnya. Karena, harga itu
sendiri merupakan salah satu elemen bauran pemasaran. Dalam prosesnya strategi
penentapan harga berlangsung penentuan tujuan, analisis situasi, pemilihan
strategi, penentuan harga khusus dan kebijakan. Banyak bisnis menggunakan
strategi penetapan harga untuk mencapai satu atau lebih tujuan. Hal tersebut,
ialah untuk mendapatkan posisi pasar, mencapai kinerja keuangan, penentuan
posisi produk, dan mempengaruhi persaingan. Selain demikian dua kecenderungan
pun hadir dalam penggunaan harga sebagai variabel strategis. Pertama, bisnis
merancang harga secara fleksibel untuk mengatasi perubahan dan ketidakpastian.
Kedua, harga seringkali digunakan sebagai elemen strategis bisnis dan pemasaran
secara aktif. Analisis terhadap situasi penetapan harga dilakukan untuk
mengembangkan strategi terhadap kurva lini produk atau memilih strategi
penetapan harga terhadap suatu produk maupun merek baru. Penekanan formulasi
strategi ditempatkan pada beberapa kegiatan penting yang mencakup analisis
pasar, analisis produk, analisis persaingan termasuk pertimbangan hukum dan
etika. Analisis tersebut, menunjukan luasnya daya lenting penetapan harga.
Penetapan harga dapat didekati dari strategi sangat aktif, aktif, hampir aktif.
Penetapan harga khusus dilakukan berdasarkan biaya, persaingan dan atau
permintaan. Dalam keberadaannya pelaksanaan dan pengelolaan strategi penetapan
harga mencakup penetapan kebijakan-kebijakan. Akhirnya, beberapa pertimbangan
penetapan harga khusus terungkap,yaitu: saluran distribusi, daur hidup produk,
hubungan kualitas dengan harga yang tidak selamanya berbanding lurus.
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan
sebagai kegiatan pemasaran yang
berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen
kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis,
jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan). Dengan kata lain, proses
distribusi merupakan aktivitaspemasaran yang
mampu:
1. Menciptakan
nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang
dapat merealisasikan kegunaan/utilitas bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikan.
2. Memperlancar
arus saluran pemasaran (marketing channel flow) secara fisik dan non-fisik.
Yang dimaksud dengan arus pemasaran adalah aliran kegiatan yang terjadi di
antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat di dalam proses pemasaran. Arus
pemasaran tersebut meliputi arus barang fisik, arus kepemilikan, arus
informasi, arus promosi, arus negosiasi, arus pembayaran, arus pendanaan, arus
penanggungan risiko, dan arus pemesanan.
Dalam pelaksanaan
aktivitas-aktivitas distribusi, perusahaan kerapkali
harus bekerja sama dengan berbagai perantara (middleman) dan saluran distribusi
(distribution channel) untuk menawarkan produknya ke pasar.
Marketing
Communication ( Komunikasi Pemasaran ) adalah sarana yang digunakan perusahaan
dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk dan meningkatkan konsumen langsung
atau tidak langsung tentang produk dan merk yang mereka jual.
Komunikasi
pemasaran dapat diidentifikasikan sebagai hal berikut:
1.
Mengidentifikasikan pasar dan
kebutuhan konsumen atau persepsi konsumen.
2.
Mengidentifikasikan pasar dan
kebutuhan konsumen atau persepsi konsumen.
3.
Mengvaluasikan sejumlah perilaku
yang tergambar diyakini dapat mencapai tujuan.
Strategi mempromosikan sebuah produk
atau perusahan merupakan strategi pembangunanatribut yang akan dan terus
dikenal oleh konsumen.
Komunikasi pemasaran bertujuan untuk
mencapai tiga tahap perubahan yang ditunjukan kepada konsumen. Tahap pertama yang
ingin dicapai dari strategi komunikasi pemasaran adalah tahapan perubahan
khowledge (pengetahuan), dalam perubahan ini konsumen mengetahui adanya
keberadaan sebuah produk, tahapan kedua adalah perubahan sikap dalam consumer
behavior perubahan sikap ini ditentukan oleh tiga unsure yang disebut oleh
Sciffman dan Kanuk menunjukkan bahwa tahapan perubahan sikap ditentukan dan
conation (perilaku), jika tiga komponen ini menunjukkan adanya kecenderungan
terhadap sebuah perubahan (kognitif, afektif, dan konatif)
Konsemen Indonesia setip saat
berubah sedikit dengan sedit menuju sebuh tahapan yang disebut ”knowledge
social”, tahapan ketiga lebih berbahaya lagi setip perancang iklan
yang bermaksud membodoh-bodohi konsumen. Perlu disadari bahwa batas-batasan
etika ini sebenarnya tidak bermaksud membatasi keratifitas ide, bahkan
memotivasi terjadinya inovasi dan kreatifitas iklan yang lebih tinggi dan
membantu para kreatif untuk memberikan sebuah iklan.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Kotler,
Philip. Cetakan pertama 1987. DASAR –
DASAR PEMASARAN EDISI TIGA. Jakarta : PT Midas Surya Grafindo
2.
Sunyoto,
Danang. Cetakan pertama 2012. Dasar-dasar
Manajemen Pemasaran. Yogjakarta : CAPS.
3.
Usman,
Husaini. Cetakan pertama Juli 2008. MANAJEMEN
EDISI KEDUA. Jakarta : Sinar Grafik Offset.